Sigit dan Rabbani : Awal Perjalanan

“Apakah kamu lapar, Rabbani?”

“Oh Sigit, kami para kuda lebih mampu bertahan terhadap lapar daripada kalian manusia. Tapi kalau kau ajak aku makan, mari saja.”

“Rabbani, si kuda menyebalkan. Ada restoran drive thru enak di batas desa.”

Derap langkah Rabbani membawa mereka ke ujung desa. Sebentar lagi perjalanan akan mulai masuk ke hutan. Sigit merasa ia harus kenyang sebelum berlapar-lapar di jalan. Entah apakah ada makanan yang bisa ditemukan di hutan ataukah tidak. Ia merasa harus berjaga-jaga dengan makan sekenyang mungkin.

Antrean kedai makan drive thru agak ramai siang itu. Jam makan siang sedang berlangsung. Beberapa dokar maju satu per satu sebelum akhirnya tiba giliran Sigit. Ia memesan paket hemat sebanyak empat buah. Dua untuk dimakan saat memasuki hutan, dan dua sebagai bekal untuk dimakan nanti malam.

Mereka makan dengan pelan-pelan demi menghindari tersedak. Selain itu mereka memang sedang was-was. Tidak terbayang tantangan seperti apa yang akan ditemukan nanti di depan. Apakah akan ada naga? Kalau ada apakah naga itu benar-benar bisa terbang? Atau mungkin akan muncul penyihir jahat di tengah hutan. Pikiran-pikiran yang Sigit tepis. Ia tidak mau keragu-raguan menyusup ke dalam hatinya. Ia harus memberanikan dirinya. Toh semua ini juga demi memenuhi impiannya.

Sigit menaiki punggung Rabbani dan duduk di atas pelana. Ia mengelus dengan penuh kasih sayang surai Rabbani. Petualangan berbahaya mungkin ada di luar sana. Utara sangatlah jauh dari bayangan. Sebelum mulai perjalanan tak lupa ia berdoa.

Rabbani pun tidak kalah kalut. Di masa kecilnya, ia sering mendengar kisah betapa nenek moyangnya adalah kuda-kuda pemberani yang tidak takut mati. Perang demi perang mereka lalui. Petualangan nenek moyang adalah dongeng sebelum tidur yang selalu ia sukai. Kini ia akan menjalani kisahnya sendiri. Bersama Sigit ia yakin akan menghadapi segalanya dengan berani.

“Kau siap, Rabbani?” tanya Sigit penuh arti.

“Semua akan terasa indah selama kita bersama, kawanku” jawab Rabbani mantap.

“Tentu saja. Tapi aku pikir sebaiknya kita pulang dulu saja” Rabbani bingung mendengarnya.

“Ada sesuatu yang tertinggal. Aku lupa membawa pedang” tambah Sigit kemudian.

Mereka berdua pun melangkah pulang untuk mengambil pedang.

Sigit dan Rabbani

Iklan

Sigit dan Rabbani : Mari Berkenalan

Cerita ini belumlah lama terjadi. Jika melihat dari kalender yang telah mencapai usia lebih dari 2000 tahun, 20 tahun hanyalah potongan kecil dari umur kehidupan yang sudah berlalu. Tapi cerita ini tidak terjadi 20 tahun yang lalu. Bisa kurang dan bisa lebih dari itu.

Pada masa itu seekor kuda masih dapat berbincang dengan penunggangnya. Hal tersebutlah yang membuat tokoh kita tidak pernah takut untuk berkelana walaupun sendirian. Terlebih kuda milik tokoh kita ini cukup berisik untuk ukuran seekor kuda. Ia adalah kuda yang cerewet. Karena cerewet lah tokoh kita memilih kuda tersebut. Ia ingin berkelana seorang diri. Tokoh kita ini sangat sayang dengan kudanya. Dan si kuda sangat setia pada tokoh kita. Mereka adalah ganda campuran yang dahsyat.

Tokoh kita sedang dalam misi memenuhi impiannya. Ia ingin bepergian sejauh-jauhnya sampai menemukan suatu tempat yang nyaman untuk ditinggali. Desa tempatnya berasal dianggapnya sudah membosankan. Pekerjaannya sebagai kepala urusan pemerintahan desa sudah tidak menantang. Ia telah berhasil mengubah bentuk pemerintahan yang sebelumnya parlementer menjadi monarki. Parlemen desa sudah dibubarkan dan kini semua keputusan ada di raja yang sesekali meminta masukan dari penasehatnya.

Sang tokoh pun pergi dengan kudanya. Beberapa lembar pakaian ia bawa supaya dapat berganti jika dirasa perlu. Emas pun dia bawa secukupnya saja. Dia tidak terlalu suka jajan sembarangan. Ibunya selalu membawakannya bekal makan siang sebelum berangkat bertugas. Dan kebetulan tokoh kita tidak tinggal di negara yang menganut prinsip kalau belum makan nasi belumlah kenyang. Ia tidak pilih-pilih dalam hal makan kecuali kambing karena alergi. Sebelum pergi tak lupa ia berpamitan pada ibundanya. “Sekalian cari istri,” teriak ibunya sebelum menutup pintu. Tokoh kita yang satu ini memang masih sendiri. Menikah bukanlah menjadi prioritasnya untuk saat ini.

“Ke arah mana kita akan pergi, tuan?” tanya si kuda.

“Kita akan ke arah utara. Kita akan berperang melawan angkara murka. Keadilan harus ditegakkan di muka bumi. Bahkan kalau perlu keadilan juga harus ditegakkan sampai kutub utara. Dan jangan panggil aku tuan mulai saat ini. Panggil aku Sigit. Nama lengkapku Sigit Dewantara.”

“Baik, Sigit. Kalau begitu kau boleh memanggilku Rabbani.”

Sigit dan Rabbani

Pergi

Dear Leo,

Aku yakin pria pintar sepertimu tidak suka film cinta, apalagi yang roman picisannya kental dan memiliki alur cerita yang klise. Namun, jika ada waktu dan Tuhan sedang baik — kuingin Ia menjebakmu untuk menonton film Sunny.

Ya! Tahun 2006 silam, salah satu sutradara film paling produktif di Indonesia, Nayato Fio Nuala merilis karya yang mampu membuat seorang Ghea menangis hingga berkali-kali. Padahal ceritanya basi, tentang seorang gadis dan cinta pertama yang ia temukan di masa SMA.

Dikisahkan bahwa Sunny adalah anak baru di sekolah Alya, namun sosoknya yang dingin dan misterius mampu membuat Alya yang tomboy bertekuk lutut dan mendeklarasikan diri sebagai pengagum rahasia yang paling hebat. Tanpa diduga, di sisi lain ternyata Sunny memiliki perasaan yang sama kepada Alya.

Namun untuk menjaga tali pertemanan agar tetap utuh, tidak ada satu pun dari mereka yang berani untuk menyatakan cinta terlebih dahulu. Hingga beberapa tahun kemudian, Alya yang sudah bertunangan, dan Sunny yang sudah menikah — harus benar-benar dipisahkan oleh kematian, dan kisah cinta mereka usai begitu saja. Tanpa pertemuan yang lebih layak, tanpa ucapan ‘selamat tinggal’ yang lebih manis.

Menyedihkan,

….dan Le, aku tidak mau menjalani kehidupan se-tragis Alya, tapi aku juga segan untuk menyatakan perasaan yang kupendam selama tiga tahun terakhir. Aku takut kamu menjauh, dan seorang gadis sepertiku sepertinya tidak layak untuk bersanding dengan pria sejenius kamu. Lalu, aku harus apa?

***

Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Kadang-kadang, aku berkhayal agar Tuhan mau menitipkan sihir di dalam ukulele kesayanganku. Aku ingin Ia mengabulkan permohonanku melalui lagu-lagu yang sudah mengalun indah dengan iringan dari ukulele ini. Meskipun sudah tua dan sering dibanting ibu, tapi kuharap Tuhan tidak masalah dengan itu, kemudian sudi untuk memasukan magis di dalam setiap senarnya.

Ah iya, lagu Banda Neira yang baru saja kulantunkan mungkin akan jadi lagu terakhir yang bisa kau dengar secara langsung. Acara perpisahan sekolah sudah tinggal menghitung menit. Rasanya ingin turun panggung dan memelukmu seketika, mengucapkan kata-kata penuh rajuk seperti “jangan pergi, aku sayang sama kamu”.

Percuma, keberanianku tidak setebal itu.

Kelak, mungkin aku akan menyesal karena telah melewatkan momen berharga seperti ini. Tapi tubuhku benar-benar tidak berdaya, logika tetap harus menang.

“Akan sangat tidak pantas jika seorang wanita menyatakan cinta terlebih dulu, apalagi jika sudah tahu akan tertolak tanpa ba-bi-bu”

Le, aku pergi. Hiduplah dengan baik, semoga Tuhan senantiasa menyertaimu dalam setiap langkah. Aku mencintaimu, sekarang dan di kehidupan selanjutnya.

Akhirnya

Nothing’s gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing’s gonna change my love for you

Warna. Aku melihat begitu banyak warna hari ini. Ada warna bahagia. Ada warna haru. Aku melihat dengan jelas semua itu melalui penglihatanku. Hari ini pun tiba.

Ujian demi ujian rasanya begitu biasa. Aku melewati itu semua tanpa rasa. Tidak ada was-was saat mengerjakannya. Mendapat nilai bagus pun aku biasa saja. Semua terasa rutinitas saja bagiku. Bersekolah selama bertahun-tahun membuatku kebal dengan segala bentuk ujian di dalam kelas. Ujian lisan adalah seni bagaimana kita mengatur intonasi suara agar terlihat meyakinkan di depan penguji. Jawaban salah pun akan dianggap lalu jika pengujinya kurang teliti. Ujian tulis adalah saat dimana kita menumpahkan segala apa-apa yang otak kita sanggup tangkap. Biasanya orang akan belajar sepanjang malam demi memastikan dirinya siap menghadapi soal. Rajin membaca catatan lah yang sebenarnya menjadi kunci. Walau sehari hanya sekali, niscaya itu akan menolong di hari ujian.

Hari ini pun tiba. Orang-orang terlihat begitu antusias dengan kelulusannya. Begitu pula dengannya. Ia tersenyum lebar bersama teman-temannya. Ujian akhir memang sempat membuatnya murung. Mungkin karena ia harus banyak belajar supaya dapat nilai bagus. Intensitasnya dalam bermusik pun tak setinggi dahulu. Sepertinya kini dia bisa kembali ceria. Aku senang melihatnya tertawa.

Teman-temanku datang menghampiriku. Beberapa teman dekat sengaja datang walau tinggal di tempat yang jauh. Aku bersyukur memiliki teman-teman dekat. Meski aku pemalu, aku tetap menekan diriku untuk berteman dengan sebanyak mungkin orang. Dan betapa beruntungnya aku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.

Sebenarnya aku berniat untuk mendatanginya dan mengucap beberapa kata seperti “selamat,ya.” Lantaran malu dan takut dikira apa, aku berusaha sebaik mungkin untuk sibuk berbincang dengan teman-temanku. Aku harus menghilangkan kesempatan untuk menegurnya. Dan ketika keramaian mulai beranjak sepi, aku pun berkemas untuk pulang.

Tidak ada kejadian bertemu di tempat parkir, berpapasan di pintu gerbang yang terjadi antara aku dengannya. Aku sendiri saja sepanjang perjalanan pulang. Kini semua tinggal lah masa lalu di belakang sana. Aku terus berjalan bahkan berlari menjemput masa depan. Walau memang aku menyesal perasaan ini hanya ku simpan sendiri tanpa pernah ku sampaikan. Aku akan tetap bahagia pernah berada di dekatnya. Walau hanya dari jauh, kan ku rekam setiap senyum yang pernah ku tangkap. Kan ku ingat suara indahnya yang mengalun dibawa angin menggetarkan gendang telingaku. Semua tentangnya kini tinggal kenangan indah di masa lalu.

Dan aku terus melangkah. Menguncinya dalam kotak kenangan masa lalu untuk ku buka sesekali di kala aku rindu.

9985379b-8f0d-4172-89ce-1c9808ab07f3

Perubahan

Pada suatu hari nanti, aku yakin langit tidak akan lagi berwarna biru. Sebagaimana aku yakin pada dedaunan yang tidak lagi hijau di musim gugur. Perubahan, bagaimanapun juga, adalah hal paling biasa dalam kehidupan. Segalanya mengalami perubahan. Tak ada yang mampu menolaknya. Demikian lah kehendak sang alam.

Sebuah kursi aku duduki begitu saja. Di depan kelas ada para pengajar tadi berlalu lalang. Aku menunggu kamu. Tapi kau tidak juga muncul mengakhiri penantianku. Aku terus menunggu dalam diamku. Sesekali teman yang lewat bertegur sapa denganku. Kami saling bertanya untuk berbasa basi seperti biasanya. Aku sayang mereka semua. Dan aku yakin mereka pun menyayangiku. Terutama saat ujian sedang berlangsung.

Kamu tidak muncul hari ini. Rasa-rasanya aku begitu sendiri. Sebuah perasaan yang sebenarnya biasa saja bagiku. Tidak ada yang istimewa dari kesendirian. Seperti pula tidak ada yang wah dari keramaian. Semua terasa biasa saja selama dalam kadar yang tepat serta kondisi yang layak. Keseimbangan adalah suatu hal yang ku yakini pentingnya. Ada siang ada malam. Ada suka ada duka. Dan ada aku juga ada kamu. Walau hanya sebatas pada khayalku. Tak jadi soal karena itu sudah cukup bagiku.

Perubahan yang selalu terjadi mengakibatkan hari menjadi berganti. Ke depannya bulan pun akan mengalami pergantian. Panjang rambut, panjang kuku. Semua berganti tanpa kecuali. Aku pun sadar bahwa orang pun datang dan pergi. Dan sial betul, aku tak ingin kamu terganti.

Bukankah dalam setiap pertemuan akan selalu diikuti perpisahan? Ayolah, jika memang perpisahan tampak semakin nyata, aku ingin hal itu ditunda saja. Aku ingin lebih lama bersamamu. Melihatmu dari jauh sembari merekam indah senyumanmu. Kan ku penuhi memoriku dengan suara indah yang mengalun bersama lagu yang keluar dari mulutmu. Sial, kenapa aku tidak bisa menentang pergerakan sang waktu? Padahal kamu adalah inginku.

Dan ujian akhir pun akan datang. Seiring dengan perpisahan yang semakin membayang.

9985379b-8f0d-4172-89ce-1c9808ab07f3

Mencintai dengan Sederhana

Akhir-akhir ini, kau selalu membuatku terbangun dengan mata yang sembab. Bagi sebagian orang memimpikan sosok yang ia puja mungkin adalah sebuah anugerah yang harus dihadiahi oleh seperangkat sujud syukur, lengkap dengan barisan do’a yang sudah sepatutnya,

….tapi bagiku, tidak juga.

Sebaliknya, aku selalu merasa sangat sedih jika Tuhan menitipkan wajahmu di sela-sela tidur panjangku.

Jangan salah paham, aku tidak bermaksud untuk menyebutmu sebagai mimpi buruk! Bukan, kau jelas adalah mimpi baik yang selalu kusemogakan sebelum tidur.

Namun, memimpikanmu hanya membuat logikaku merasa semakin kalah.

Aku hanya akan mencintaimu dengan sederhana, tidak lebih. Tanpa perasaan ingin dibalas, apalagi merasa ingin memiliki seluruh jiwa dan ragamu secara utuh.

Aku hanya akan menjadi pengagum rahasia, yang tidak memasukan sosokmu ke dalam resolusi pencapaian yang selalu ditulis para pemimpi di setiap akhir tahun.

Aku tidak akan menjadikanmu sebagai objek untuk memenuhi obsesi apalagi ambisi. Aku hanya akan mencintaimu dengan sederhana, seperti waktu itu, seperti hari ini.

Tumbuh dewasalah dengan baik, angkat kepalamu Shaggy!

Biarlah

Terkadang aku membenci diriku sendiri. Ada orang yang membenci dirinya karena bodoh, miskin, dan berbagai alasan lainnya. Alasan-alasan yang mereka benarkan untuk tidak mensyukuri hidupnya. Dan aku membenci diriku karena terlalu pemalu.

Untuk bertanya alamat pada orang di pinggir jalan pun aku tidak memiliki cukup keberanian. Untunglah teknologi kini telah menyediakan peta digital yang informasinya sangat lengkap. Benar-benar anugerah bagi manusia pemalu sepertiku.

Belakangan aku tidak lagi berani sengaja lewat di depanmu. Salahku memang. Kini aku tidak lagi bisa mencuri dengar secara jelas lagu apa yang kau nyanyikan. Pria mana yang mencoba mendekatimu. Humor apa yang sedang kamu tertawakan bersama teman-temanmu. Aku hanya mampu memandangmu dari jauh. Itu pun di balik lembar-lembar karya Dag Solstad yang selalu ku jadikan tameng. Aku sangat malu. Mungkin aku takut kamu akan mencampakkanku.

Atau memang sudah ada pria yang menjadi kekasih kamu? Aku yakin pria itu sama populernya dengan kamu. Atau mungkin dia adalah drummer yang biasa manggung bersama kamu? Aku yakin dia adalah cowok yang keren dan hebat. Kalian akan menjadi pasangan serasi. Sepasang musisi berbakat yang akan menjadi pembaharu dunia musik Indonesia yang begitu-begitu saja selama ini.

Maka izinkanku menyaksikanmu dari jauh. Aku akan mengupayakan untuk datang pada setiap konser-konser kamu. Dari panggung ke panggung. Kalau perlu bahkan saat kamu manggung di luar kota aku pun akan berusaha datang. Tapi aku akan melihat berapa uang yang ku butuhkan terlebih dahulu. Bukan. Bukan karena aku setengah-setengah dalam mengagumimu. Aku rasa aku perlu makan untuk bertahan hidup supaya bisa mengagumimu dalam waktu yang lama. Ah. Kamu mengerti, bukan? Apa perlu aku jelaskan semua alasan kenapa tidak menonton kamu konser langsung kepadamu? Di depanmu aku akan bercerita tentang alasan-alasanku. Sial. Kamu pasti sangatlah sibuk. Dan aku pasti akan sangat malu jika berbicara di depan kamu.

Biarlah buku tua ini saja yang jadi saksi betapa aku sangat kagum kepada kamu. Aku sudah memutuskan berhenti bercerita kepada teman-teman terdekatku soal kamu. Aku khawatir mereka akan menyampaikan ke kamu bahwa aku adalah penggemar kamu. Kamu pasti akan sangat terganggu karenanya. Maka biarlah cukup aku dan buku tua ini saja yang tahu.

9985379b-8f0d-4172-89ce-1c9808ab07f3